Sepanjang hidup baru kali ini aku serius melihat wujud manusia. Manusia berkaki empat pula. Buaya, anjing dan babi.

Kalau kulihat-lihat, gaya ngomongnya bagus meyakinkan. Kalau ada rapat-rapat, apalagi soal pilkada duduknya pasti paling depan. Padahal entah kapan dia paham politik. Ada pula kawan, dulu aktivis kali, tapi sekarang ngomongin tentang calon di pilkada.

Gak usah banyak kali gaya. Era keemasaan orang itu ada batasnya, siap itu era aluminum, era tembaga dan era besi. Siap itu berkaratlah. Kalau udah berkarat, gak tau lagi cemana bagusinnya. Cari asahanlah, gosok sana gosok sini.

Ngomongin politik pula, di depan rumahnya pun JR nya. Jalan Rusak, JR itu Jalan Rakyat, Boss. Bukan Jalan Rusak, kau pikirkan aja bagus-bagus.

Era keemasan orang bisa berakhir karena Jalan Rusak, Jalan Berlubang. Coba kau lihat politisi-politisi yang sempat punya rra keemasan. Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Setya Novanto, Angelina Sondakh sampe Rio Patrice Capella. Gol semua itu di JR, JeRuji maksudnya bukan Jalan Rusak lagi.

Udahlah. Aku lagi ngurus pohon kopiku ini. Banyak pula sekarang kopi impor masuk ke Sumatera Utara ini.

Kurang bagus apalagi Kopi Sidikalang, Kopi Karo, Kopi Simalungun, Kopi Humbang dan Kopi Samosir. Masa sampe impor kita, ada pula Kopi Senegal, Kopi Hongkong, Kopi Utopia masuk ke Sumut ini. Kan kacau itu.

BACA JUGA:

Rasakan Rasa EKSTASE KOPI di Puncak Gunung Sibayak

Udah Jalan Rusak, kopi impor. Udahlah. Habislah udah era keemasan kita. Ngomongin politik pula kalian. Semuanya kalian makan. Dibilang Buaya salah, dibilang Babi salah, dibilang Anjing pun salah. Minum kopi juganya kalian. Cemana binatang minum kopi. Masa aku kalian suruh meroasting kopi untuk binatang. Kusajikan pula kopiku ini untuk kalian.

Udahlah awak capek menanam, memupuk, meroasting. Siap itu kalian suruh pula aku hidangkan buat kalian. Kan udah payah kita ini. Iya kalau dibayar, kalau kalian lari cemana. Tapi cemana pula kalian mau lari, Jalan aja Rusak.

BACA JUGA:

Udahlah mau habisnya masa keemasan kalian itu, siap itu jadi ekor cicaknya kalian. Lepas gitu aja untuk menyelamatkan diri karena kalah calon kalian. Siap itu, kalian minumlah kopi-kopi yang entah dari negara mana itu. Dari Amerika pula, gawatlah udah kita. Impor aja otak kalian.

Kalian tau banyak orang Ganteng yang udah masuk Jeruji. Udah gol. Tau kau gol. Sok Paten pula kalian masang-masang spanduk di pinggir-pinggir jalan Sumut ini. Kan udah gak sehat kita ini, Boss.

ILUSTRASI. (sumber: http://pixabay.com)

Mengotori jalan pula kalian. Siap itu kalian bakar pula spanduk itu. Asapnya hitam entah kemana-mana. Sempat kena pula ladangku kalian buat, selesai kubuat. Terus kemanalah kalian buat paku-paku spanduk kalian itu. kalian buang pula di jalan, kena ban kereta orang bocor. Disalahkan pula Jalan Rusak, apalagi baru pula kereta itu lagi masa-masa keemasannya. Meski impor dari Jepang, kredit pula. Hargailah, Boss.

Kugimbal kalian kalau kalian ikut pula mencuri uang rakyat. Bersekongkol pula kalian hak-hak orang miskin. Ikut membodoh-bodohi masyarakat. Kugimbal kalian, meski rambutku kini gak gimbal lagi.

Jangan kalian kira kalian aja yang paham politik. Jangan kalian jadikan keringat petani kopi jadi saksi otak serakah kalian.

Pokoknya gitu ajalah. Jujur-jujur ajalah kita dalam hidup ini. Bagus-bagus. Ganteng gak cukup bos, Ganteng gol juga. Apalagi sok Paten pula, kalau kalian sok Paten. Gak semangat pula nanti kalian ngomongin Pilkada ini.

Okelah…. Udah masuk pula ini pupuk kopi ke rumah. Kita pakek pupuk kotoran Ayam. Itu yang kita pakek sekarang. Kakinya cuma dua soalnya, gak empat kayak babi dan anjing. Oke boss. Aman ya…

==================
Penulis: Willie Sembiring |  COFFEE LOCAL HERO

 

Komentar Anda