Jangan mudah percaya pada cerita ini. Sebab aku sendiri yang menceritakannya tidak sungguh-sungguh menulisnya. Ini sudah kehendak tu(H)an. Bahwa kita tidak dapat memilih kapan akan lahir, Dimana akan berkarir. Kecuali kita sedang memilih selir. itu juga kalau kita tajir.

Soal nasib baik atau nasib buruk itu hanya soal takdir. Itu terserah pada tu(H)an-tu(H)an penguasa yang suka meminum bir. Duduk manis berdiskusi di pelataran hotel mewah sambil bicara banjir. Senyam-senyum nyengar-nyengir. Sambil melirik meja yang sudah di penuhi buah apel, anggur, jeruk atau pir. Tanpa pernah menyadari hanya karena buah, manusia sudah mengenal dosa. Melipir ke neraka yang kelak penderitaannya tiada akhir.

Sama seperti kamu yang akhirnya membaca tulisan ini. Aku juga tidak tahu persis jenis buah apa yang akhirnya menggoda Adam dan Hawa akhirnya tertarik memakan buah pohon yang di larang Tuhan itu. Buah yang akhirnya mereka mengetahui sesuatu. Buah yang akhirnya membuat mereka di usir Tuhan. Apakah buah apel atau buah pir. Kita masih sama penasaran.

Tapi yang jelas menurut banyak literasi kitab-kitab agama Samawi. Salah satu alasan Adam memakan buah pemberian Hawa agar mereka bisa sama seperti Tuhan. Bisa menciptakan manusia.

Menentukan kapan dia akan lahir, apa jenis kelaminnya, punya paras cantik atau tampan, pintar, pekerjaan bagus, kaya dan punya pasangan yang setia pula. Barang kali nasib ciptaannya kelak akan jauh dari harapan.

Maka kita akan bilang; Ini sudah takdir tu(H)an, ini sudah nasibnya. Sudah garis tangannya. Enak betul jadi tu(H)an. Bisa sesuka hati menciptakan manusia dan sesuka hati pula menentukan nasibnya. Begitulah takdir di peralat. Diatas pembelaan kemauan tu(H)an.

Baiklah. Aku akan bercerita tentang sesuatu; “Once upon a Time, pada suatu hari. Hiduplah seorang putri yang cantik…bla..bla..bla..”.

“Stop sampai di sini. Sebelum saya melanjutkan cerita ini mari kita bermain tebak-tebakan. Bagaimana kelanjutan ceritanya”. kataku

“Ini cerita apa?” katamu sore itu.

“tebak saja” timpaku

“Ada banyak cerita tentang putri cantik. Putri salju dan tujuh kurcaci, putri tidur atau putri duyung” Jawabmu penuh kebingungan.

“Sebaiknya kau tunggu saja cerita ini selesai. Sebab akulah yang paling tahu tentang kelanjutan cerita ini. cerita ini milikku. Barangkali ini hanya seperti kisah Cinta yang akhirnya bertemu Rangga setelah 14 tahun di film Ada Apa Dengan Cinta. Atau barang kali ini cerita tentang Cinderella yang bertemu pangerannya hanya karena sepatu kaca” sambarku
“lalu kenapa kau bilang stop. Kemudian menghentikan ceritanya tiba-tiba dan mengajakku bermain tebak-tebakan?” tanyamu kebingungan.

Di sini di meja ini. Tempat cerita di mulai dan tak pernah tahu kapan cerita akan diselesaikan. Apakah tu(H)an akan melanjutkannya ceritanya atau malah menghentikannya itu terserah tu(H)an. Tokoh yang ada dalam cerita tak berhak protes pada tu(H)an. Itu sudah takdirnya, itu sudah nasibnya. Siapa yang bisa melawan kehendak tu(H)an.

Barang kali jika Adam dan Hawa hanya ingin menjadi tu(H)an. Mereka tidak perlu melanggar perintah Tuhan. Memakan buah yang jenisnya belum kita ketahui bersama itu. Andai kita juga bisa memberi pilihan maka sebaiknya Adam dan Hawa menjadi penulis saja. Menulis cerpen, menulis novel.

Mereka bebas menceritakan apa saja. Menciptakan manusia, mengatur kapan dia akan lahir lalu menentukan nasibnya dengan abadi dan tak pernah mati. Barang kali juga cerita ini berlanjut tokoh di dalam cerita tersebut juga bisa masuk surga. Happy ending.

Menulis adalah soal bersikap. Apakah kita akan menulis sebuah kebenaran dengan amat buruk atau menulis kebohongan dengan sangat menarik itu kembali pada pilihan kita. Ini sikap penulis. Tetapi yang pasti kehidupan di dalam sebuah cerita harus penuh sensasi agar menarik diceritakan. Jika tidak ada sensasi maka penulisnya gagal. Sebab yang dibutuhkan dalam menulis cerita kehidupan adalah sensasi. Benar-benar fiksi. Ya fiksi.

Tersadar ini sudah jam 5 sore. Aku terbangun dari tidur siangku yang amat lelap. Aku tersadar ada dalam cerita Tuhan bukan cerita tu(H)an. Sebaik penulis dia hanya tu(H)an, dia bukan Tuhan. Jangan lupa minum kopi sore ini.

ilustrasi

 

=====================

Penulis : Anwar Saragih
Editor MEDAN-TODAY.com | Dosen Muda Ilmu Pemerintahan Universitas Darma Agung

Komentar Anda