Poster film Satu Hari Nanti(doc Rumah Film dan Evergreen Pictures)
Poster film Satu Hari Nanti(doc Rumah Film dan Evergreen Pictures)

medanToday.com, JAKARTA – Meminta kepada Lembaga Sensor Film (LSF) agar memberi rating penonton 21 ke atas untuk sebuah film, bukanlah hal yang umum dilakukan.

Namun langkah itu yang diambil oleh rumah produksi Rumah Film dan Evergreen Pictures serta sutradara Salman Aristo untuk film Satu Hari Nanti.

“Pilihan rating memang sengaja 21 tahun ke atas. Bahkan, saat kami submit ke LSF, kami langsung minta untuk 21+ karena secara konten untuk usia sekitar itu, tidak bisa dikonsumsi untuk 21 tahun ke bawah,” ucap produser Satu Hari Nanti, Dienan Silmy, dalam keterangan tertulisnya kepada kompas.com, Rabu (29/11/2017).

“Kalau dianalogikan, kami enggak akan mungkin membicarakan obrolan anak SMA di depan anak SD,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Dienan menambahkan bahwa keputusan meminta rating untuk penonton dewasa tersebut didukung oleh sejumlah hasil riset tentang penonton fi di Indonesia.

“Data analisa pasar saat ini, potensi pemasukan pasar di usia 21-35 sedang naik-naiknya. Mungkin karena mereka sudah bisa di tahap heavy cost,” katanya.

Berdasarkan riset yang dilakukan pihak Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di 16 kota besar pada 2016 lalu, menyatakan bahwa penonton film Indonesia berusia 25-38 berada di posisi kedua setelah 18-25.

Selain itu, Salman mengaku tak mau setengah-setengah dalam menggarap film Satu Hari Nanti. Ia ingin membuat film yang jujur dan tepat sasaran.

Karena itu, Salman tak memberi celah untuk bermain aman hanya agar filmnya bisa dikonsumsi penonton remaja.

“Jadi ini memiliki pasar yang sangat besar sekali. Terus kalau kami membuat film agar bisa disasar segmen remaja, filmnya jadi nanggung. Makanya kami garap pasar dewasa ini, bicara betul-betul tentang mereka,” kata Salman.

Film Satu Hari Nanti mengangkat kisah tentang kegelisahan anak-anak muda dalam membangun komitmen ini di Swiss, baik dalam cinta, keluarga, maupun pekerjaan.

Lika-liku pertemanan dan kisah cinta yang kelam tumbuh bersama dalam mencari makna akan jati diri mereka di negeri orang.

Film yang akan tayang mulai 7 Desember 2017 ini menghadirkan Adinia Wirasti (Alya), Ringgo Agus Rachman (Din), Ayushita (Chorina), Deva Mahenra (Bima). Serta aktor kawakan Donny Damara yang berperan sebagai ayah Alya.

(mtd/min)

Komentar Anda