Beranda Headline Jadi Korban Banjir, Warga Grand Mutiara Batangkuis Tuntut Pengembang

Jadi Korban Banjir, Warga Grand Mutiara Batangkuis Tuntut Pengembang

Suasana Komplek Perumahan Grand Mutiara Indah III di Jalan Sedar, Dusun VB, Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batangkuis yang masih terendam banjir. (Dok: medanToday.com)

medanToday.com, BATANGKUIS – Meluapnya Sungai Belumai berdampak pada naiknya debit air Sungai Dalu, Kecamatan Batangkuis, Deliserdang pada Sabtu (14/11) kemarin. Akibatnya beberapa rumah warga di sekitaran lokasi menjadi terendam air.

Jebolnya benteng Sungai Dalu membuat puluhan rumah warga Komplek Perumahan Grand Mutiara Indah III di Jalan Sedar, Dusun VB, Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batangkuis ikut terendam air. Mirisnya, di saat sejumlah kawasan mulai dari Tanjung morawa sampai Batang kuis sudah susut, namun kondisi itu tidak terjadi di perumahan. Bahkan, genangan air terus menggenangi komplek yang padat penduduk itu.

Ironisnya sampai hari ini tidak ada juga respon dari pengembang (developer) untuk membantu meringankan beban penghuni komplek, baik secara moril maupun materil. Jangankan membayar ganti rugi kepada para korban seperti yang dilakukan pengembang lainnya, membantu pembersihan saja tidak ada. Apalagi untuk mengganti perabotan rumah tangga dan barang elektronik mereka yang rusak karena terendam air. Intinya, pihak pengembang seolah tutup mata.

Hal diungkapkan salah satu penghuni komplek bernama Iqbal. Dia mengatakan, sejauh ini belum ada perhatian dan niat pihak pengembang untuk meringankan beban para penghuni perumahan.

“Hanya sebungkus nasi yang diberikannya ke kami, pada Sabtu lalu saat banjir,” ucap Iqbal dengan nada kesal saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/11).

“Kami hanya ingin pihak pengembang menunjukkan tanggung jawabnya atas kejadian banjir kemarin,” tambahnya.

Iqbal menjelaskan, jebolnya tembok pembatas komplek menjadi sorotan bagi para penghuni. Menurut ia dan warga lainnya ternyata bukan karena derasnya debit air yang menghantam tembok pembatas komplek, tapi pada saat banjir terjadi justru air dalam keadaan tenang. Melihat kondisi itu, mereka menduga jebolnya tembok itu karena kualitas bangunan yang tidak kuat.

“Ini sangat aneh, kuat dugaan kami tembok yang dibangun pengembang itu asal jadi. Karena kami melihat gak ada tiang pendukung di bangunan itu. Apalagi komplek ini bersebelahan dengan persawahan, seharusnya saluran drainase komplek lebih tinggi dari parit desa, ini malah sebaliknya. Begitu banjir meluaplah semua air ke komplek, ditambah lagi temboknya jebol dan generator air gak berfungsi dengan baik sehingga masih ada genangan air di komplek walaupun banjir sudah reda,” kesal Iqbal.

Terpisah, Misdi selaku pihak pengembang Perumahan Grand Mutiara III saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon di nomor 08137520XXXX, menjawab keluh kesah warga komplek dengan ringan dan enteng seperti tidak ada kejadian.

“Kejadian itukan bencana, kalau masalah ganti rugi itu pihak pemerintahlah,” kilahnya melempar tanggung jawab.

“Kalau masalah tembok pembatas komplek dengan persawahan yang dibuat pengembang jebol, nanti akan kita perbaiki,” ucapnya ringan sembari menutup teleponnya. (mtd/min)

Komentar Anda