Beranda Headline Cerita Perawat yang Menjadi Sopir Ambulance di RSDC Wisma Atlet

Cerita Perawat yang Menjadi Sopir Ambulance di RSDC Wisma Atlet

Relawan sopir ambulan RS Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Ika Dewi Maharani, dalam diskusi daring, Selasa (10//2020). (Satgas Covid-19)

medanToday.com, JAKARTA – Ika Dewi Maharani membagi pengalamannya pernah membawa puluhan pasien terinfeksi virus Corona, dalam sehari selama menjadi relawan sopir ambulance di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet.

“Dalam satu hari tim ambulans kami pernah membawa 87 pasien ke RSDC. Minimalnya itu hanya enam pasien yang diangkut,” kata wanita pertama yang menjadi sopir ambulans di RSDC, dalam diskusi daring Satgas Covid-19 terkait Hari Pahlawan 10 November di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Selasa (10/11).

Selama bekerja, Ika mengaku memiliki tugas beragam meskipun kewajiban pokoknya adalah sopir. Sebagai lulusan akademi keperawatan di Surabaya, dia ikut menjadi perawat kepada pasien Covid-19 yang diangkutnya menggunakan ambulance.

Di tengah keterbatasan relawan, dirinya harus memiliki kemampuan lain yaitu menjadi teknisi mobil ambulancenya sehingga dia sudah terbiasa memeriksa kelaikan komponen di kendaraannya.

Menjadi ibu yang jauh dari anak karena tinggal di Ternate, Ika hanya bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui sambungan telepon. Rasa rindupun kerap dirasakannya, namun karena kewajiban dan alasan protokol kesehatan, hingga kini ia belum bisa menemui keluarga di kampung halaman.

“Saya bertugas satu hari, besoknya libur. Jadi, waktu off saya manfaatkan menghubungi keluarga dan anak. Bagitu juga saat mau dinas, saya tetap berkabar kepada mereka,” katanya.

Keputusannya menjadi relawan Covid-19 di Jakarta sempat mendapat pertanyaan dari sang ibu. Akan tetapi, setelah dijelaskan tentang ketatnya protokol kesehatan pada relawan dan kewajiban menolong perawat tidak boleh pilih-pilih pasien, akhirnya ia mendapat mengizin.

“Awalnya tidak menyangka, tinggal nunggu wisuda. Saya melihat Jakarta terdampak pandemi. Kalau tidak ke pusat, ini akan menyebar sehingga saya mendaftarkan diri jadi relawan. Saya tidak menyangka kami sebagai perawat evakuasi pasien, tapi menjadi driver juga. Itu tantangan tersendiri bagi saya,” pungkasnya. (mtd/min)

Komentar Anda