Ilustrasi: (sumber:int)

medanToday.com,TAPUT – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara kembali bergulir dengan tajuk “Menjadi Pendidik Cerdas dan Cakap Digital”.

Hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Eval Wari, ACC, Secretary General International Coaching Federation (ICF) Indonesia dan CEO Leadership Resources Indonesia; Dian Ikha Pramayanti, S.Pt., M.Si, Dosen dan Penulis; Rudyanto Sinaga, M.Si, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Humbang Hasundutan; dan Dr. Junita Friska, M.Pd, Akademisi/Peneliti dan Pemerhati Pendidikan.

Pada sesi pertama, Eval Wari menyampaikan orang yang buta huruf bukan mereka yang tak bisa membaca, tetapi orang orang yang tidak bisa mempraktekkan learn, unlearn, relearn. Karena kita mengalami transformasi.

“Sekarang manusia berada di era digital. Dibutuhkan sekali untuk kita adaptasi. Kita harus bisa menghadapi perubahan tersebut,” katanya.

Dian Ikha Pramayanti mengatakan dengan meningkatnya penggunaan aplikasi di dunia digital, hal itu tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga ada hal yang perlu kita perhatikan. Maka internet sehat sangat penting agar dapat memaksimalkan penggunaan internet secara bijak dan memunculkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif, sehingga tercipta masyarakat yang cerdas dan produktif.

Rudyanto Sinaga menjelaskan guru memiliki peran penting dalam transformasi digital saat ini karena dituntut untuk menguasai teknologi demi terpenuhinya tunjangan pembelajaran di tengah pandemi, jadi guru mempunyai jasa yang sangat besar.

Memahami etika digital sangat penting agar tidak merusak norma norma kemanusiaan dan tetap menjaga kedamaian dalam dunia digital juga tetap melestarikan nilai nilai yang sudah ada di tengah-tengah masyarakat.

“Memiliki etika digital untuk pembelajaran jarak jauh juga penting agar proses pembelajaran jarak jauh dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Junita Friska menuturkan bicara tentang belajar secara umum, Belajar itu tidak mengenal umur dan bahkan dilakukan selama hidup. Maka kita harus menggunakan waktu seefisien dan seproduktif mungkin agar mendapat ilmu yang bermanfaat.

“Selaku guru perlu mengoreksi apakah materi yang kita sajikan ini diminati oleh siswa atau tidak. Kita melakukan observasi. Jika siswa masih tidak tertarik, kita mencoba cara baru dengan memanfaatkan media digital yang lebih menarik yang langsung bisa dipahami oleh siswa dengan menyajikan segala konsep konsep yang ada di lingkungan mereka. Kita bisa mengubah segala cara apakah dari teknik penyajiannya, teknik penyampaiannya,” ungkapnya.(*)

=======================

Komentar Anda