ILUSTRASI. (sumber:internet)

medanToday.com,Langkat – Sekretaris PWI Jatim dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia, Eko Pamuji menyampaikan saat ini semua mengalami digitalisasi. Banyak transformasi yang terjadi, diantaranya perubahan surat ke email, koran ke e-paper dan buku ke e-book. E-book merupakan buku elektronik atau buku digital, yaitu versi elektronik dari buku.

Jika buku pada umumnya terdiri dari gabungan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

“E-book bisa dibuat sendiri atau melalui jasa orang lain. E-book juga memiliki manfaat dan kekurangannya,” ujarnya saat menjadi Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara bertajuk “Mendunia Melalui Karya Menulis E-Book” beberapa waktu lalu.

Dosen dan Sekjen P2BPT Indonesia, Amirullah mengatakan lemahnya etika akademik menyebabkan banyak terjadinya tindak plagiarisme. Jika ingin mendunia, maka kecilkan dunia dengan digitalisasi. Menulis e-book ternyata memiliki etika. Etika dalam membuat karya tulis di dunia digital yaitu pahami tata cara menulis yang baik dan benar, perhatikan batasan etika dan hukum, dan memanfaatkan teknologi informasi di era digital.

“Agar karya tulis anda aman dari jeratan pelanggaran etika dan dan maka pahami dan laksanakan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UUHC),” jelasnya.

Penulis Dai Yo Edu Tech, Yopi Rachmad menjelaskan buku elektronik atau buku digital adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari gabungan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar. Terdapat beberapa karakteristik buku digital salah satunya yaitu tidak mudah rusak dan berbasis komputer.

“Ada beberapa platform digital yang dapat digunakan untuk mendapatkan manfaat menulis Digital Books salah satunya yaitu QBACA,” ungkapnya.

Penulis dan PPPSU Kota Medan, Choliza Nasution, M.Pd menuturkan pentigraf merupakan kependekan dari “cerita pendek tiga paragraf”. Jadi, syarat utamanya adalah cerpen yang ditulis harus sebanyak tiga paragraf, tidak kurang tidak lebih. Sebagai salah satu karya sastra, pentigraf termasuk dalam kelompok cerita mini atau cerita pendek yang sangat singkat.
Menurutnya e-book ini sangat meningkatkan motivasi anak untuk membaca, apalagi untuk anak milenial yang tidak ingin sulit. “E-Book ini sangat memudahkan untuk kita dalam mendapatkan apa yang kita mau dengan lengkap dan mudah,” jelasnya.

Rana Rayendra selaku Key Opinion Leader menyampaikan tips untuk para pemula yang baru terjun di dunia penulis adalah harus banyak membaca, tentukan tujuan dan harus banyak-banyak belajar.

===================

Komentar Anda