medanToday.com,JAKARTA - Banjir melanda Jakarta dan sekitarnya karena curah hujan yang ekstrem. Curah hujan ekstrem ini diduga merupakan dampak dari perubahan iklim. Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mulanya memaparkan soal tren curah hujan sejak 1866. Menurutnya, ada kesesuaian tren antara makin seringnya kejadian banjir signifikan di Jakarta dan peningkatan intensitas curah hujan maksimum per tahun. Ini menunjukkan tren perubahan iklim. "Dari pengkajian data historis curah hujan harian selama 150 tahun (1866-2015), terdapat kesesuaian tren antara semakin seringnya kejadian banjir signifikan di Jakarta dengan peningkatan intensitas curah hujan maksimum per tahunnya. Di wilayah Jabodetabek (data 43 tahun terakhir), curah hujan harian tertinggi per tahun mengindikasikan tren kenaikan intensitas 10-20 mm per 10 tahun," kata Siswanto kepada wartawan, Kamis (2/1/2020). Siswanto juga menjelaskan soal analisis peristiwa banjir pada pernah terjadi pada beberapa tahun ke belakangan. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim yang meningkat 2-3 persen dibanding kondisi iklim 100 tahun lalu. "Analisis statistik ekstrem untuk perubahan risiko dan peluang terjadinya curah hujan ekstrem yang berkaitan dengan kejadian banjir dengan perulangan sebagaimana periode ulang kejadian 2014, 2015 (termasuk bila kejadian 2020 diperhitungkan) di Jakarta menunjukkan peningkatan 2-3 persen bila dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun lalu. Hal ini menandakan hujan-hujan besar yang dulu jarang, kini lebih berpeluang kerap hadir pada kondisi iklim saat ini," ungkapnya. Sebelumnya, BMKG memaparkan catatan curah hujan terkait banjir besar di Jakarta dari tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan tahun ini tertinggi sejak 154 tahun lalu. Berikut ini catatannya: 1866: 185,1 mm/hari 1918: 125,2 mm/hari 1979: 198 mm/hari 1996: 216 mm/hari 2002: 168 mm/hari 2007: 340 mm/hari 2008: 250 mm/hari 2013: > 100m m/hari 2015: 277 mm/hari 2016: 100-150 mm/hari 2020: 377 mm/hari =================================