Chairman Samera Propertindo, Adi Ming E. MTD/Ist

medanToday.com,MEDAN – Meluncurkan produk perumahan terbaru di tengah pandemi tentu butuh kepiawaian dan keberanian. Apalagi di saat bersamaan beberapa pengembang sangat disayangkan akhirnya terpaksa gulung tikar (kolaps). Terlebih lagi Indonesia baru saja keluar dari resesi ekonomi beberapa waktu lalu.

Tapi ini pula yang menjadi karakter otentik dari Samera Propertindo. Beberapa kali
developer kenamaan Sumut ini keluar dari mainstream pengembang kebanyakan. Beberapa
tercatat di antaranya pengembangan perumahan mewah di tengah kota, pergeseran strategi
penjualan dari konvensional ke digital, penyelenggaraan pameran properti skala besar di awal
pandemi, hingga terakhir menghebohkan media sosial dengan mystery campaign.

Hasilnya, Samera Propertindo stand out menjadi salah satu pengembang dengan inovasi
paling kreatif, proyek produktif, dan penjualan atraktif. Ini tentu tidak terlepas dari tangan
dingin Chairman Samera Propertindo, Adi Ming E yang cukup jeli membaca perubahan
pasar, fenomena kekinian, beserta manajemen risiko di dalamnya.

Saat meladeni pertanyaan awak media di kantornya, Adi Ming E menyebutkan perubahan
sangat nyata terjadi, dengan atau tanpa adanya pandemi. Sangat sulit untuk mendapatkan
hasil yang luar biasa dengan pendekatan yang itu-itu saja. Pilihan yang ia miliki hanya ada
tiga, pertama menonton perubahan, kedua hanya menganalisis perubahan, atau ketiga
menjadi bagian dari perubahan. Kita memilih selalu berusaha menjadi bagian dari perubahan,
lalu menjadikan itu DNA Samera Propertindo.

“Digitalisasi terbukti mengubah segalanya. Lima tahun lalu saya banyak dibantu
teman-teman media cetak. Dua tahun lalu teman-teman media online. Tentu sebagian besar disini juga masih ingat beberapa kali kita ketemu. Sekarang, teman-teman pegiat media sosial
punya peran vital dalam campaign kemarin. Ada yang seorang beauty vlogger, traveler, food
blogger, penulis, dll. Ini contoh yang sangat sederhana dari perubahan,” buka Adi Ming E
menjawab pertanyaan seputar inovasi Samera Propertindo.

PROSPEK TAHUN DEPAN
Sebagai tokoh muda yang namanya diperhitungkan di Kota Medan, Adi Ming E dicecar
beberapa pertanyaan seputar ekonomi khususnya lokal Kota Medan.

“Langit di tahun 2022 akan tetap biru, tapi juga sesekali mendung, gerimis, dan badai. Tahun
ini juga begitu kan? Sebelum pandemi juga begitu. Yang terpenting kan seberapa banyak
yang berani jualan payung ketika mendung dan jualan es ketika cuaca terik”, jelas Adi Ming
E menganalogikan kondisi ekonomi di tahun depan di tengah audiensi pers.

Yang menarik, Adi Ming E justru berpendapat tahun 2023 dan 2024 akan sangat tidak
terprediksi (unpredictable). Ada banyak kepala daerah purna tugas dan digantikan PLT
hingga 2024. Lonceng tahun politik juga bunyinya serentak untuk semua posisi. Legislatif
dan eksekutif bersamaan dipilih. Menurut Adi Ming E, akan banyak pengusaha yang grogi di
tahun politik.

“Tahun 2022 sepertinya kita semua (pengusaha) bakal habis-habisan. Menyelesaikan
perizinan, mengajukan permohonan, menentukan masa depan, ekspansi atau pivot, ya semua
lah. Kalau sudah di tahun politik biasanya kita grogi, sungkan, apalagi kali ini beda. Satu
lonceng pemilu untuk semua posisi,” singgung Adi Ming E mengenai pengaruh situasi politik
pada sektor ekonomi.

Tapi beliau tetap optimis semua akan baik-baik saja. Hanya saja, beliau lebih
mengkhawatirkan orang-orang yang justru hanya memilih menonton orang berjualan payung
di musim hujan dan es di musim panas. Apalagi sambil terus berkomentar musim lagi
paceklik, tidak ada peluang.

PROPERTI
Saat ditanya seputar keberanian beliau meluncurkan proyek perumahan terbaru di tengah
pandemi, Adi Ming E menyebut Samera Djohor termasuk salah satu proyek yang
peluncurannya sengaja dipersiapkan menunggu momentum yang tepat.

Adi Ming E beranggapan masyarakat harus langsung menikmati kenaikan nilai yang tinggi
setelah membeli sebuah unit properti. Salah satu cara untuk memastikan kenaikan nilai aset
akan melesat adalah status proyek-proyek infrastruktur strategis sekitar kawasan Medan
Johor.

Misalnya, selesainya beberapa proyek infrastruktur Pemerintah Daerah di kawasan tersebut.
Mulai dari flyover, underpass, hingga pelebaran jalan. Prospek kawasan ini semakin cerah
dengan perencanaan Jalan Metropolitan Mebidangro

Baginya, tidak salah investor mempertimbangkan perkembangan kawasan lima atau sepuluh
tahun lagi, tapi harus juga menghitung pertumbuhan jangka pendek. Samera Djohor akan
menjadi aset yang sangat produktif mulai dari awal kepemilikan.

“Samera Djohor akan menjadi hunian yang sangat menyenangkan dan mengesankan.
Infrastruktur sudah baik, fasilitas sudah lengkap, dan prospek pertumbuhan yang sangat
cerah. Risiko nilai aset stagnan hingga sunset effect, sudah pasti tidak membebani pemilik
hunian Samera Djohor”, ungkap Adi Ming E.

Adi Ming E tidak ingin masyarakat keliru membeli aset terlalu dini, lalu karena infrastruktur
belum memadai, nilai aset rupanya tidak tumbuh dengan layak. Padahal aset yang nilainya
tumbuh lambat termasuk kerugian investasi.

“Misalnya, sepuluh tahun lalu beli aset 10 juta, sekarang pasaran 12 juta. Iya, nilainya naik.
Tapi 10 tahun naik hanya 20 persen happy nggak? Sekarang harga 12 juta, tahun depan 13
juta, gimana?”, sebut Adi Ming E menjelaskan pentingnya membaca pengaruh kawasan pada
nilai aset investasi.

=====================================

Komentar Anda